sains tentang terumbu karang

dampak krim matahari turis terhadap ekosistem laut

sains tentang terumbu karang
I

Bayangkan kita sedang berada di sebuah pantai yang indah. Pasirnya putih bersih, angin berhembus pelan, dan wangi kelapa dari losion menguar di udara. Sebelum melompat ke air laut yang biru jernih, kita melakukan sebuah ritual wajib. Kita mengoleskan sunscreen atau tabir surya tebal-tebal ke seluruh tubuh.

Kita merasa bangga karena sudah melakukan hal yang benar. Kita melindungi kulit kita dari ancaman kanker dan penuaan dini. Kita merasa aman. Namun, pernahkah kita menyadari bahwa pada saat yang bersamaan, kita mungkin saja sedang membawa sebuah "senjata biologis" ke dalam air?

Ketika kita menyelam, melihat ikan-ikan kecil berwarna-warni yang bersembunyi di balik terumbu karang, kita sedang menjadi tamu di sebuah kota metropolis bawah laut yang usianya jauh lebih tua dari peradaban manusia. Sayangnya, tanpa kita sadari, perlindungan yang kita pakai untuk diri kita sendiri adalah racun yang mematikan bagi tuan rumah yang sedang kita kunjungi.

II

Untuk memahami ironi ini, mari kita mundur sejenak dan melihat ke belakang. Sejarah manusia dengan matahari adalah sejarah tentang cinta dan ketakutan. Secara psikologis, kita butuh matahari untuk vitamin D dan kebahagiaan, tapi kita juga tahu bahwa radiasi ultraviolet (UV) bisa merusak DNA kulit kita. Di pertengahan abad ke-20, para ilmuwan menciptakan solusi jenius: tabir surya kimiawi. Senyawa ini bekerja dengan cara menyerap sinar UV dan mengubahnya menjadi panas yang tidak berbahaya bagi tubuh.

Sementara itu, nun jauh di bawah ombak, terumbu karang sedang sibuk membangun kotanya sendiri. Teman-teman, terumbu karang itu bukan batu. Mereka adalah koloni hewan kecil bernama polip. Agar bisa bertahan hidup, polip ini bekerja sama dengan alga mikroskopis yang disebut zooxanthellae. Alga ini tinggal di dalam jaringan tubuh karang. Mereka memberikan makanan lewat fotosintesis, dan sebagai gantinya, karang memberikan tempat tinggal yang aman. Alga inilah yang memberi karang warna-warni cerah yang sangat indah.

Hubungan simbiosis ini adalah salah satu kisah cinta paling sukses dalam sejarah evolusi biologi. Jutaan tahun mereka hidup berdampingan, menciptakan ekosistem paling kaya di lautan. Namun, sejarah panjang ini ternyata sangat rapuh ketika berhadapan dengan inovasi modern manusia.

III

Setiap tahunnya, jutaan turis dari seluruh dunia berbondong-bondong mengunjungi terumbu karang. Secara psikologis, kita pergi ke laut untuk healing, untuk lari dari stres dan mencari ketenangan. Kita berenang, tertawa, dan membiarkan air laut membasuh tubuh kita.

Tapi di sinilah masalahnya bermula. Saat kita berenang, sekitar 25 persen sunscreen yang menempel di kulit kita akan luntur dan larut ke dalam air. Dalam skala global, diperkirakan ada sekitar 14.000 ton tabir surya yang tumpah ke terumbu karang setiap tahunnya.

Lalu, sebuah fenomena mengerikan mulai terjadi. Di berbagai tempat wisata populer, terumbu karang tiba-tiba berubah warna menjadi putih pucat seperti tulang. Fenomena ini dikenal sebagai coral bleaching atau pemutihan karang. Awalnya, para ilmuwan mengira ini murni karena pemanasan global dan suhu air yang naik. Suhu panas memang membuat karang stres. Tapi, di beberapa teluk wisata yang suhunya normal, karang-karang ini tetap saja memutih dan mati masal.

Apa yang sebenarnya terjadi di perairan yang dipenuhi turis tersebut? Ada pembunuh tak kasat mata yang sedang beraksi, dan ia berasal dari kulit kita sendiri.

IV

Mari kita bongkar sains kerasnya. Banyak tabir surya komersial menggunakan bahan kimia aktif seperti oxybenzone dan octinoxate. Senyawa ini sangat efektif menyerap sinar UV di kulit manusia. Tapi, ketika senyawa ini masuk ke air laut dan berinteraksi dengan terumbu karang, efeknya benar-benar seperti film horor fiksi ilmiah.

Oxybenzone bertindak sebagai endocrine disruptor atau pengganggu hormon pada karang. Ketika polip karang terpapar bahan kimia ini, walau hanya dalam jumlah yang sangat kecil—setara dengan satu tetes air di dalam enam kolam renang Olimpiade—DNA mereka menjadi rusak.

Lebih parah lagi, bahan kimia ini merusak sistem pertahanan karang. Karang yang terpapar oxybenzone akan mengalami stres berat. Dalam kondisi panik, polip karang akan mengusir zooxanthellae, alga sahabat yang selama ini memberi mereka makanan dan warna. Ketika alga itu pergi, karang kehilangan sumber energi utamanya. Ia berubah menjadi putih transparan, kelaparan, dan perlahan-lahan mati.

Ironi ini sungguh luar biasa. Bahan kimia yang kita gunakan untuk melindungi DNA manusia dari mutasi, ternyata secara langsung menghancurkan DNA terumbu karang dan mengakhiri hubungan simbiosis mereka yang sudah terjalin jutaan tahun.

V

Mendengar fakta ini mungkin membuat kita merasa bersalah. Tapi teman-teman, tujuan kita membahas ini bukan untuk saling menghakimi. Secara psikologis, manusia memang cenderung fokus pada ancaman yang paling dekat dengan dirinya—dalam hal ini, kulit yang terbakar matahari—sehingga kita sering luput melihat dampak yang lebih luas dari tindakan kita. Kita merusak bukan karena kita jahat, melainkan karena kita tidak tahu.

Sekarang, kita sudah tahu. Sains memberi kita kemampuan untuk berpikir kritis dan mengubah arah. Kabar baiknya, kita tidak perlu berhenti pergi ke pantai atau membiarkan kulit kita terkena kanker. Kita hanya perlu mengubah cara kita melindungi diri.

Saat ini, sudah banyak tersedia mineral sunscreen atau tabir surya fisik yang berbahan dasar zinc oxide atau titanium dioxide (pastikan yang berlabel non-nano). Alih-alih menyerap radiasi seperti spons beracun, bahan mineral ini bekerja seperti cermin kecil di atas kulit yang memantulkan sinar UV, dan mereka terbukti jauh lebih aman bagi terumbu karang. Beberapa negara bagian seperti Hawaii bahkan sudah melarang secara hukum penjualan sunscreen kimia yang merusak karang.

Kita adalah makhluk yang diciptakan dengan empati yang luar biasa besar. Mari kita gunakan empati itu tidak hanya untuk merawat diri kita sendiri, tetapi juga untuk merawat kehidupan di sekitar kita. Di liburan kita berikutnya, mari pastikan bahwa satu-satunya jejak yang kita tinggalkan di pantai hanyalah jejak kaki di pasir, dan bukan jejak racun di lautan.